Pernak-pernik Perjalanan ke Jepang: Hari Kedua

From ASN Encyclopedia, platform crowdsourcing mengenai ASN
Jump to navigation Jump to search

Kedatangan di Jepang kemarin disambut dengan hujan dan badai Taiphoon. Namun kegiatan plesir ke beberapa tempat tetap dapat dilakukan. Tidak maksimal pengalamannya memang tetapi masih ada beberapa hari kedepan untuk menikmati berbagai sisi lain Jepang.

Ketika check ini di hotel kemarin, Makino, Koordinator Program dari JICE, telah menyampaikan untuk berkumpul di lobby dan berangkat dari hotel ke tempat pelatihan jam 08.40 keesokan harinya. Malam hari Makino menelpon bahwa karena adanya Taiphoon maka berangkat ke tempat pelatihan diundurkan dari jam 08.40 ke jam 09.10.

Sepintas, tidak ada yang istimewa dari peristiwa di atas. namun jika dicermati, maka dapat dipahami bahwa di Jepang waktu tidak lagi dihitung kelipatan 60 menit, 30 menit atau 15 menit, tetapi sudah lebih detail. Ini adalah refleksi dari kedisiplinan mereka memanfaatkan waktu menit demi menit. Kedisiplinan semacam ini ditemukan disemua negara maju, dan sebaliknya di negara berkembang. Demikian pula pembelajaran di kelas, dimulai jam 10.00 tepat sesuai jadwal.

Yang menarik di sesi pembelajaran ini adalah nara sumber yang tidak segan-segan mengatakan "saya tidak tahu" untuk hal yang tidak dikuasainya. Sebenarnya bukan hanya di jepang, di beberapa negara maju dimana saya pernah mengikuti pelatihan para nara sumbernya terkesan biasa-biasa saja. Bahkan terkesan nara sumber Indonesia lebih hebat. Hanya saja yang selalu menjadi tanda tanya bagi saya jika mereka biasa-biasa saja lantas apa yang membuat mereka lebih maju?

Deputi Bidang Diklat Aparatur LAN yang kebetulan duduk berdekatan dengan saya di bus dalam perjalanan pulang ke hotel mengatakan “terletak pada kemampuan mereka mengimplementasikan”. Ha ini sejalan dengan pandangan salah seorang nara sumber di Urban Redevelopment Agency (URA) di Singapura. Dalam kesempatan mengantar peserta Diklat Kepemimpinan Tingkat II ke sana saya dan anggota rombongan tersentak oleh pernyataan nara sumber tersebut. “Indonesia jauh lebih hebat dalam perencanaan”, katanya. Saya sempat melirik beberapa orang anggota rombongan tersenyum kecil seolah bangga dengan sanjungan tersebut. Tetapi kemudian nara sumber tersebut melanjutkan, “kehebatan kami terletak di kemampuan mengimplementasikan perencanaan yang awalnya sederhana”. Pernyataan tersebut terasa seperti pukulan yang menyentak kesadaran saya dan mungkin beberapa anggota rombongan yang sempat mendengarkan, betapa kita abai dalam hal ini. Benarlah perkataan Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Thailand, Lutfi Rauf, yang pernah saya undang untuk memberikan ceramah di depan peserta Diklat Kepemimpinan Tingkat II. “Kita hebat membuat perencanaan, tetapi begitu mau diimplementasikan semua menghindar”, katanya.

Mungkin penyebabnya bukan hanya hal di atas, tetapi masih ada banyak faktor lain yang terselip diantara cara berpikir dan cara bekerja mereka. Apa itu persisnya? akan tetap menjadi pertanyaan yang perlu dicari jawabnya.

Muhammad Firdaus (talk) 20:04, 22 January 2021 (WIB)